Membaca Dinamika Identitas Sosial di Pekalongan lewat Batik Motif Buketan (Floral Motif)

Karina Rima Melati(1*),

(1) Sanata Dharma University
(*) Corresponding Author

Abstract


Buketan, berasal dari kata bahasa Prancis bouquet yang berarti rangkaian bunga, merupakan motif yang menjadi esensi dari batik Belanda yang dibuat oleh wanita Indo-Eropa pada akhir abad ke-19. Karena dibuat dengan menonjolkan keelokan dan kehalusan pada dekorasinya, motif ini cepat mendapatkan pasar. Kelompok-kelompok non-lndo, seperti masyarakat Tionghoa dan pribumi, kemudian membuat dan memadukan motif buketan dengan berbagai elemen kebudayaan mereka masing-masing. Dengan kata lain, motif buketan menunjukkan bentuk-bentuk hibrida kebudayaan. Lebih jauh, motif ini juga menjadi kekhasan batik Pekalongan karena dibuat dan dikembangkan secara masif oleh masyarakat di Pekalongan dengan berbagai bentuk dan varian sandangan. Pembuatan motif buketan dengan demikian menunjukkan kontestasi masyarakat di Pekalongan dalam mengapropriasi dan mengimajinasikan identitas sosialnya. Terjadi proses negosiasi antara konsumen atau pasar dan hubungannya dengan pembentukan selera yang terdapat pada habitus masyarakat Pekalongan. Pembentukan selera atas motif buketan menunjukkan terjadinya perubahan pengalaman membatik baik dari penampilan maupun pengalaman pengerjaannya.

Keywords


batik; Pekalongan; identitas sosial; apropriasi; cultural industry; hibriditas

References


Benjamin, W. (1999) "The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction," dalam J. Evans dan S. Hall (ed.) Visual Culture the Reader, London: Sage Publication.

Bhabha, H.K. (1994) The Location of Culture, London & New York: Routledge.

Bosma, U. dan R. Raben (2008) Being "Dutch" in The Indies, A History of Creolisation and Empire 1590-1920, Singapore: NUS Press.

Bourdieu, P. (1977) Outline of Theory of Practice, Cambrigde: Cambridge University Press.

Doellah, S. (2001) Batik Pengaruh Zaman dan Lingkungan, Surakarta: Batik Danar Hadi.

Duggan, G. (2001) "The Chinese Batik of Java," dalam I. van Hout (ed.) Batik Drawn in Wax, 200 Years of Batik Art From Indonesia in The Tropenmuseum Collection, Amsterdam: Royal Tropical Institute.

Elliot, I. M. (2004) Batik Fabled Cloth of Java, Singapore: Peri plus.

Hout, I. van (2001) 200 Years of Batik Art From Indonesia in The Tropenmuseum Collection, Amsterdam: Royal Tropical Institute.

Kerlouge, F. (2004) Batik: Design, Style and History, London: Thames and Hudson.

Kahlenberg, M. H. (1980) "The Influence of the European Herbal on Indonesia Batik," dalam M. S. Gittinger (ed.) Batik and Related Textiles, Washington: The Textile Museum.

Marx, K. (tanpa tahun) Naskah-naskah Ekonomi dan Filsajat 1844. Bandung: Hastra Mitra.

Nurhajarini, R. D. (2005) "Batik Belanda: Wanita lndo Belanda dan Bisnis Batik di Pekalongan" Majalah Patra Widya, vol. 6/2Juni no. 1.

Raadt-Apell, M. J. de (1980) De batikkerij Van Zuylen te Pekalongan, Zupthen: Uitgeverij Terra-Zupthen.

Storey, J. (19.93) An Introductory Guide to Cultural Theory and Popular Theory, Hempstead: Harvester Wheatsheaf Campus.

Veldhuisen, H. C . (1993) Batik Belanda 1830-1940, Dutch Influence in Batik from Java History dan Stories, Jakarta: Gaya Favorit.

Veldhuisen, H. C. (1996) "The Role of Enterpreneurs in the Stylistic Development of Batik Pasisir," dalam Fabric of Enchantment: Batik from the North Coast of Java; from the Inger McCabe Elliot Collection, Los Angeles: Los Angeles County Museum of Art.




DOI: https://doi.org/10.24071/ret.v3i2.14923

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2013 Karina Rima Melati

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora is published by the Graduate Program in Cultural Studies at Sanata Dharma University, Yogyakarta, Indonesia.

Retorik is also available in print edition. Please click here for contact information.