Harmoni Ekologis dalam Petuah Adat Sikka dan Lamalera: Pedoman Hidup di Tengah Tantangan Modern

Christian Wildeciano Jogo(1*), Marselinus Kalang Lelaona(2), Kasimirus Rape Baluk(3),

(1) 
(2) Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma
(3) Filsafat Institusi Filsafat dan Teknologi Kreatif – Ledalero
(*) Corresponding Author

Abstract


This research analyzes the noble values of the Sikka and Lamalera communities contained within the customary advice, "Hode Lau Ina Limé, Ina Soro Sare-Sare" (Lamalera – Lembata) and "Blatang Ganu Wair, Blirang Ganu Wolong/Bao" (Sikka, Maumere). Both pieces of advice are inherited from ancestors, serve as the foundation for the formation of local culture, and reflect a harmonious relationship between humans and nature with an emphasis on the ecological aspect.They illustrate how nature, encompassing both the sea and the land with its environment, is viewed not merely as a resource but also as a sacred entity that must be respected. Amidst rapid modernization, the appreciation for tradition and customary advice is increasingly marginalized, and the articulation of the noble values of the surrounding environment is often neglected.The main challenge lies in how these noble values can serve as an effective guide for life in maintaining environmental balance and harmony amid the challenges of modern development, and how to prevent the destruction of the harmonious relationship between humans and nature as attention to tradition diminishes. The research methodology is descriptive qualitative with an analytical approach, utilizing interviews and literature review for data collection. Findings indicate that the noble values of the environment represent the embodiment of the Creator's presence, who sustains and maintains the community's survival.

Abstrak

Penelitian ini menganalisis nilai-nilai luhur masyarakat Sikka dan Lamalera yang terkandung dalam petuah adat "Hode Lau Ina Limé, Ina Soro Sare-Sare" (Lamalera – Lembata) dan "Blatang Ganu Wair, Blirang Ganu Wolong/Bao" (Sikka, Maumere). Kedua petuah ini diwariskan nenek moyang dan berfungsi sebagai latar belakang terbentuknya kebudayaan lokal, serta mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan alam dengan penekanan pada aspek ekologis. Keduanya menggambarkan bagaimana alam, baik laut maupun daratan dengan lingkungannya, tidak hanya dipandang sebagai sumber daya, tetapi juga sebagai entitas suci yang harus dihormati. Di tengah pesatnya perkembangan zaman, penghayatan terhadap tradisi dan petuah adat kian terpinggirkan, dan pengungkapan nilai luhur alam sekitar sering kali diabaikan. Padahal, petuah-petuah ini menggambarkan alam, baik laut maupun daratan, tidak hanya sebagai sumber daya, tetapi juga sebagai entitas suci yang harus dihormati. Tantangan utama adalah bagaimana nilai-nilai luhur ini dapat berfungsi sebagai pedoman hidup efektif dalam menjaga keseimbangan dan keselarasan lingkungan di tengah tantangan pembangunan modern, serta mencegah rusaknya hubungan harmonis antara manusia dan alam seiring berkurangnya perhatian terhadap tradisi. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan analitis, menggunakan wawancara dan studi pustaka untuk penyediaan data. Temuan menunjukkan bahwa nilai luhur lingkungan hidup merepresentasikan perwujudan kehadiran Sang Pencipta yang memelihara kelangsungan hidup masyarakat.


Keywords


Harmoni Ekologis, Nilai luhur lingkungan, kebudayaan lokal, petuah adat, Masyarakat Sikka, Masyarakat Lamalera

References


Buku

Cholidin, Achmad. Hukum Lingkungan: Prinsip, Regulasi, dan Penegakan untuk Keadilan Ekologis. Jakarta: Kencana PrenadaMedia Group, 2025.

Lelaona, Antonius. Dari Lautan Menuju Tuhan. Yogyakarta: Kanisius, 2016.

Artikel Jurnal

Askodrina, Hijriadi. “Penguatan Kecerdasan Perspektif Budaya dan Kearifan Lokal.” Jurnal Pendidikan dan Pemikiran 16, no. 1 (2021): 619–623.

Bato, Kamilus, et al. “Menggali Makna Ritus Huler Wair dan Hubungannya dengan Sakramen Pembaptisan.” Jurnal Adat dan Budaya 5, no. 2 (2023): 91–98.

Chang, Kuei-Feng, et al. “Harmony with Nature: Disentangling the Influence of Ecological Perception and Adaptation on Sustainable Development and Circular Economy Goals in Country.” Heliyon 10, no. 4 (2024): 1–15.

Djamaluddin, Muhamad, et al. “Air dalam Perspektif Agama dan Budaya.” Journal on Education 7, no. 2 (2025): 8733–8740.

Doncaster, C. Patrick, and James M. Bullock. “Living in Harmony with Nature Is Achievable Only as a Non-Ideal Vision.” Environmental Science and Policy 152, no. 2 (2024): 1–8.

Gobang, Yonas K. G. D., and Yoseph Aprilyanus Nong Boni. “Komunikasi Ritual dalam Tradisi Lodong Me: Analisis Semiotika Roland Barthes Tradisi Lodong Me di Desa Watumilok, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka.” Jurnal Communicatio 6, no. 2 (2023): 1–16.

Kurniasari, Nendah, and Elly Reswati. “Kearifan Lokal Masyarakat Lamalera: Sebuah Ekspresi Hubungan Manusia dengan Laut.” Buletin Riset Sosek Kelautan dan Perikanan 6, no. 2 (2011): 29–33.

Pramesti, Dinar Sukma, and I Ketut Veri Kusumaningrum. “Kearifan Lokal dalam Novel Suara Samudra Karya Maria Matildis Banda dan Relevansinya sebagai Media Promosi Pariwisata di Lamalera–NTT.” Jurnal Ilmiah Hospitality Management 12, no. 1 (2021): 1–12.

Thohari, Ahmad Miftahudin. “Kearifan Lingkungan: Tradisi Masyarakat Jawa dalam Upaya Menghormati Entitas Alam.” Turast: Jurnal Penelitian dan Pengabdian 10, no. 1 (2022): 36–50.

Viktor, et al. “Krisis Harmoni antara Manusia dan Alam: Pendekatan Filosofis terhadap Tantangan Ekologi Modernitas.” Jurnal Reinha 15, no. 2 (2024): 106–118.

WAWANCARA:

Bersama Bpk. Ignasius Kusni. Anggota Pelestarian Adat Sikka. 17 September 2025.

Bersama Bpk. Herman Glau Lelaona. Kepala Suku Lamalera B. 28 September 2025.




DOI: https://doi.org/10.24071/snf.v4i1.13765

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

     

E-ISSN: (Validity Starting Volume 1 No. 2, September 2023) 3047-0714

P-ISSN: (Validity Starting Volume 1 No. 2, September 2023) 3047-1451

Kaliurang St No.KM, RW.7, Joho, Condongcatur, Depok, Sleman Regency, Special Region of Yogyakarta 55281, Indonesia

Flag Counter

Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology is licensed under CC BY-SA 4.0