Kajian Komparatif: Gotong Royong dalam Pepatah Mamasa dan Tana Ai untuk Kohesi Sosial
(1) Fakultas Teologi Wedabhakti, Universitas Sanata Dharma
(2) Universitas Sanata Dharma
(3) Sekolah Tinggi Kateketik dan Pastoral Rantepao (STIKPAR) Toraja
(*) Corresponding Author
Abstract
Gotong royong (mutual cooperation), which serves as a vital pillar of social cohesion in Indonesian society, is deeply embedded in community life and articulated through various local proverbs. Modernization and the influence of individualistic lifestyles are causing the values of gotong royong to fade and become increasingly difficult to practice in daily life. This study aims to examine two proverbs from different ethnic groups: "Rakka Batu Tuo Na Olai Kada Mesa" from the Mamasa community (West Sulawesi) and "Ganu Ipun Tama Nanga, Ganu Teban Lema Likon" from the Tana Ai community (Sikka, East Flores). The research employed a literature review and interviews with community leaders, which were then analyzed using a qualitative-descriptive and comparative approach. The findings indicate that the Mamasa proverb emphasizes the power of collective will and unity in facing major challenges, metaphorically represented by a hard stone that can be broken by one voice. In contrast, the Tana Ai proverb underscores the importance of communal life, solidarity, and compassion, using the symbol of fish swimming in schools as a metaphor for human togetherness. The comparative analysis confirms that both proverbs similarly teach the values of unity and gotong royong, albeit with different symbols and points of emphasis. Their relevance in the modern context is highly significant, as they serve as a crucial reminder of the importance of social cohesion amidst the currents of globalization, urbanization, and the culture of individualism. Thus, this study affirms that traditional proverbs are not merely cultural heritage but rather reflective and dynamic instruments that can strengthen identity, solidarity, and social justice in Indonesian society.
Abstrak
Gotong royong yang menjadi pilar penting kohesi sosial masyarakat Indonesia dihayati oleh masyarakat dan terartikulasi dalam berbagai petuah lokal. Modernisasi dan pengaruh gaya hidup individualis menyebabkan nilai-nilai gotong royong semakin luntur dan sulit dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini tujuan untuk mengkaji dua pepatah dari etnis berbeda, yakni “Rakka Batu Tuo Na Olai Kada Mesa” dari masyarakat Mamasa (Sulawesi Barat) dan “Ganu Ipun Tama Nanga, Ganu Teban Lema Likon” dari masyarakat Tana Ai (Sikka, Flores Timur). Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dan wawancara dengan tokoh masyarakat, kemudian dianalisis melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dan komparatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa pepatah Mamasa menekankan kekuatan tekad kolektif dan persatuan dalam menghadapi tantangan besar, yang dimetaforakan melalui batu keras yang dapat dipecahkan oleh satu suara. Sementara itu, pepatah Tana Ai menekankan pentingnya kehidupan komunal, solidaritas, dan belarasa, dengan simbol ikan yang hidup bergerombol sebagai metafora kebersamaan manusia. Analisis komparatif menegaskan bahwa keduanya sama-sama mengajarkan nilai persatuan dan gotong royong, meski dengan simbol dan titik tekan yang berbeda. Relevansinya dalam konteks modern sangat signifikan, karena mampu menjadi pengingat akan pentingnya kohesi sosial di tengah arus globalisasi, urbanisasi, dan budaya individualisme. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa pepatah tradisional bukan sekadar warisan budaya, melainkan instrumen reflektif dan dinamis yang dapat memperkuat identitas, solidaritas, dan keadilan sosial dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Keywords
Full Text:
PDF (Bahasa Indonesia)References
Aji, Saefullah, dkk. “Implementasi Nilai-nilai Kearifan Lokal Desa Penglipuran dalam Meningkatkan Solidaritas Sosial.” Konsep: Jurnal Sosial, 2025. Tersedia di: https://ejurnal.iainpare.ac.id/index.php/continuum/article/download/13829/2898.
Balqis, Astmarani, dkk. “Pepatah-petitih Penghulu Suku Minangkabau: Analisis Skema Citra.” Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan 7, no. 2 (Februari 2024). https://doi.org/10.54371/jiip.v7i2.3904.
Effendi, Tadjuddin Noer. “Budaya Gotong-Royong Masyarakat dalam Perubahan Sosial Saat Ini.” Jurnal Pemikiran Sosiologi 2, no. 1 (2013): 1–18. https://jurnal.ugm.ac.id/jps/article/download/23403/pdf.
“Ethics and Morality.” PubMed Central, 2023.
Tersedia di: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10593668/.
Lestari, Titin Damayanti, dkk. “Bentuk dan Makna Peribahasa Sebagai Cerminan Sistem Budaya Masyarakat Buntumalangka, Kabupaten Mamasa.” Indonesian Research Journal on Education, 2024.
https://doi.org/10.31004/irje.v4i3.825.
Maulana, Lukman, dkk. “Menanamkan Nilai Gotong Royong melalui Kearifan Lokal.” Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Pendidikan 3, no. 3 (2025): 112–119.https://doi.org/10.62383/risoma.v3i3.756.
Mawardi, Muhamad Fahri, Aji Mulyana, dan Mia Amalia. “Gotong Royong sebagai Fondasi Moral Budaya: Perspektif Hukum dan Keharmonisan Sosial.” Prosiding Mimbar Justitia: Seminar Nasional “Harmonisasi Hukum Administrasi Negara dalam Konteks Pemerintahan Daerah dan Kearifan Lokal” 1, no. 1 (2024): 217.
Tersedia di: https://jurnal.unsur.ac.id/pmj/article/view/4220/2943.
“Normativity in Metaethics.” Stanford Encyclopedia of Philosophy, 2021.Tersedia di: https://plato.stanford.edu/entries/normativity-metaethics/.
Pranadji, Tri. “Penguatan Kelembagaan Gotong Royong dalam Perspektif Sosiobudaya Bangsa.” Forum Penelitian Agro Ekonomi 27, no. 1 (2009): 62. https://jurnal.uns.ac.id/indigenous/article/download/79576/pdf.
Qodariah, Lelly, dan Laely Armiyati. “Nilai-nilai Kearifan Lokal Masyarakat Adat Kampung Naga sebagai Alternatif Sumber Belajar.” SOCIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial 10, no. 1 (2013): 12.
https://journal.uny.ac.id/index.php/sosia/article/view/5338.
“What Makes an Ethical Account a Natural Law?” SAGE Journals, 2024. Tersedia di: https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/09539468241233182.
Sumber Lapangan (Wawancara)
Hasil wawancara dengan tokoh adat Mamasa, Oktober 2025.
Hasil wawancara dengan tokoh masyarakat Tana Ai (Sikka–Flores–NTT), Oktober 2025.
Hasil wawancara dengan tokoh adat Mamasa, Oktober 2025 (Massuru’ Banua).
Catatan peneliti berdasarkan observasi dan wawancara lapangan, Oktober 2025.
DOI: https://doi.org/10.24071/snf.v4i1.13730
Refbacks
- There are currently no refbacks.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
E-ISSN: (Validity Starting Volume 1 No. 2, September 2023) 3047-0714
P-ISSN: (Validity Starting Volume 1 No. 2, September 2023) 3047-1451
Kaliurang St No.KM, RW.7, Joho, Condongcatur, Depok, Sleman Regency, Special Region of Yogyakarta 55281, Indonesia
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology is licensed under CC BY-SA 4.0





.jpg)
.png)