Peran Gereja Santo Yusup Bintaran Masa Revolusi 1946-1949

Alfania Dhiva Febryana(1*), Silverio Raden Lilik Aji Sampurno(2),

(1) Program Studi Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma
(2) Program Studi Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma
(*) Corresponding Author

Abstract


Penelitian ini menggali peran Gereja St. Yusup Bintaran pada masa penting Republik Indonesia, khususnya pada masa revolusi Indonesia, 1946-1949. Berdasarkan penelitian Sejarah menggunakan sumber-sumber yang tersedia, diketahui bahwa tokoh Soegijapranata menggerakkan Gereja Santo Yusup Bintaran dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dilatarbelakangi oleh semangat nasionalisme dalam dirinya. Soegijapranata mengemukakan dan memberi arahan umat Katolik untuk cinta tanah air berdasarkan ajaran Kristus. Kedatangan Belanda kembali sering kali membuat kerusuhan di daerah-daerah, yang memuncak pada agresi militer Belanda. Pada saat krisis keamanan di Yogyakarta, Gereja Santo Yusup Bintaran digunakan oleh masyarakat sekitar untuk mengungsi atas arahan dari Soegijapranata selaku Uskup Semarang.


Keywords


Gereja Santo Yusup Bintaran; Soegijapranata; agresi militer Belanda; Katolik Indonesia; pengungsi;

Full Text:

PDF

References


Arsip

Arsip BPAD DIY (1949), “Maklumat Menteri Negara RI Koordinator Keamanan Nomor S/4 Tahun 1949 tentang Instruksi untuk alat-alat pemerintah RI di masa peralihan (pembagian pekerjaan antara Badan-badan Pemerintah RI Pusat dan Daerah setelah kekuasaan di DIY diserahkan kembali kepada Pemerintah RI)”, BPAD.RIS.T2.IV.809.

Majalah

Claverbond, 1950

Buku dan Jurnal

Biddle, Bruce J., and Edwin J. Thomas. 1966. Role Theory: Concepts and Research. New York: John Wiley & Sons.

Dwi Ratna Nurharjarini. 2012. Yogyakarta: Dari Hutan Beringin ke Ibukota Daerah Istimewa. Yogyakarta: Balai Pelestarian dan Nilai Tradisional Yogyakarta.

Goenawan, R. 1993. Sejarah Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta: Mobilitas Sosial DI Yogyakarta Periode Awal Abad Dua Puluhan. Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.

Koesworo, F. 1994. 60 Tahun Gereja St Yusup Bintaran Yogyakarta. Yogyakarta: Panitia HUT 60 Paroki St Yusup Bintaran.

Kuntowijoyo. 2013. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Pratama, S. 2023. “Penerapan Strategi Perang Gerilya dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta.” Nirwasita: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Ilmu Sosial, 98–107.

Hardawiryana, S. R. 2015. Gaudium Et Spes. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Safitri, A. 2023. “Perjuangan Rakyat dalam Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia pada Agresi Militer Belanda II 1948–1949 di Pulau Jawa.” Heuristik: Jurnal Pendidikan Sejarah, 23–34.

Soedijono, F. 1998. Gereja Santo Yusup Bintaran Yogyakarta: Dulu, Sekarang, dan Akan Datang. Yogyakarta: Dewan Paroki Gereja Santo Yusup Bintaran.

Subanar, G. B. 2005. Menuju Gereja Mandiri: Sejarah Keuskupan Agung Semarang di Bawah Dua Uskup (1940–1981). Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Subanar, G. B. 2012. Soegija: Catatan Harian Seorang Pejuang Kemanusiaan. Yogyakarta: Galang Press.

Suhardono, E. 1994. Teori Peran: Konsep, Derivasi, dan Implikasinya. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Sudimin, Theodorus, dan Yohanes Gunawan P. 2015. Semangat dan Perjuangan Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Triyani, H. 2013. “Perpindahan Ibukota RI dari Jakarta ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946.” AVATAR: e-Jurnal Pendidikan Sejarah 2 (1): 204–14.




DOI: https://doi.org/10.24071/jbm.v30i1.13390

DOI (PDF): https://doi.org/10.24071/jbm.v30i1.13390.g4817

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2025 Alfania Dhiva Febryana, Silverio Raden Lilik Aji Sampurno