Peranan Organisasi Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) dalam Perkembangan Pendidikan di Kota Purbalingga, 1945-1958
(1) Program Studi Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
(2) Program Studi Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
(*) Corresponding Author
Abstract
Penelitian ini meneliti latar belakang berdirinya organisasi Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) di Kota Purbalingga, layanan pendidikan yang diselenggarakan, serta pengaruh organisasi tersebut terhadap masyarakat di Purbalingga. Sejak tahun 1831 ketika Purbalingga diambilalih oleh kolonial Belanda dan menjadi bagian dari Karesidenan Banyumas banyak kebijakan baru yang diterapkan, salah satunya adalah pembagian penduduk menjadi tiga golongan yaitu Orang Eropa, Orang Timur Asing dan Orang Bumiputera. Kebijakan ini mendorong sejumlah pengusaha Tionghoa untuk bersedia memberikan dukungan mendirikan sekolah hingga akhirnya berdiri sekolah THHK Purbalingga. Sekolah THHK Purbalingga pada tahun 1945-1958 telah memberi pengajaran setara dengan sekolah nasional antara lain membaca, menulis, berhitung, ilmu bumi, kesenian dan olah raga. Sekolah-sekolah THHK juga memberikan pelajaran bahasa Mandarin, Indonesia dan Inggris, Budi Pekerti sesuai ajaran Konghucu. Sekolah THHK juga menerima anak-anak dari kalangan Bumiputera. Dengan demikian organisasi THHK tidak hanya menjadi menjadi wadah bagi orang-orang Tionghoa untuk mendiskusikan berbagai permasalahan komunitasnya, namun juga memelihara kerukunan dan solidaritas antar warga di Purbalingga.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Arsip dan Surat Kabar
Akta Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Tiong Hoa Hwee Kwan Purbalingga (1958).
Akta Perubahan Anggaran Dasar Perkumpulan Masyarakat Purbalingga (31 Agustus 1960).
Akta Yayasan Dharma Mulia Purbalingga (31 Agustus 1960).
Buku dan Jurnal
Dahana, A. “Kegiatan awal Masyarakat Tionghoa di Indonesia.” Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia 2.1 (2000): 54-72.
Fauziyatur Rohmah, "Kritik Kwee Kek Beng terhadap Pendidikan Anak-Anak Tionghoa Di Hindia Belanda." Avatara 2.3 (2014): 393-405.
Setiawan, Freddy. “Sejarah yang Hampir Terlupakan-Gedung Kongkwan Saksi Bisu Dinamika Kehidupan Masyarakat Tionghoa Purbalingga”. Buletin Dharma Mulia Media Informasi dan Komunikasi Masyarakat Tionghoa Purbalingga. Edisi 1- Juli 2007.
Hok Ham, Ong. 2005. Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa. Jakarta: Komunitas Bambu.
Iskandar Jusuf, 2012. Dari Tiong Hoa Hwe Koan 1900 sampai sekolah Terpadu Pahoa 2008, Jakarta: Penerbit sekolah terpadu Pahoa.
Joe Lan, Nio. 1940. Riwajat 40 Taon dari Tiong Hoa Hwe Koan - Batavia (1900-1939), Batavia: THHK Batavia.
Kuntowijoyo. 2013. Pengantar Ilmu Sejarah, Yogyakarta: Tiara Wacana.
Moehadi, dkk. 1981. Sejarah Pendidikan Daerah Jawa Tengah, Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Suryadinata, Leo. 1984. Dilema Minoritas Tionghoa. Jakarta: Grafiti Pers.
--------------------. 1988. Kebudayaan Minoritas Tionghoa di Indonesia. Jakarta: PT Gramedia.
--------------------. “Negara dan Minoritas Tionghoa di Indonesia”. Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia 1.2 (1999): 223-247.
Aziz, Munawir. 2021. Bapak Tionghoa Nusantara. Jakarta: Kompas.
W.P. Groeneveldt. 2018. Nusantara dalam Catatan Tionghoa, Jakarta: Komunitas Bambu.
Wawancara:
Yap Hwie Gwan, 75 tahun.
Siek Hwa Nio, 73 tahun.
Thio Tjai Loen, 74 tahun.
DOI: https://doi.org/10.24071/jbm.v30i1.13315
DOI (PDF): https://doi.org/10.24071/jbm.v30i1.13315.g4794
Refbacks
- There are currently no refbacks.
Copyright (c) 2025 Joshua Emanuel Senjaya