DEFENDING HEAVEN IN DELANG: BETWEEN OIL PALM PLANTATION AND FOREST PRESERVATION

John C. Simon

Abstract


Isu ekologis kini menjadi krusial disikapi secara teologis dan praktis. Isu ini tidak terpisah dari tantangan berupa "kesatuan bahaya besar" (catastrophic convergence): kemiskinan, ketidakadilan dan kekerasan yang merajalela. Persoalan ekologis tidak terpisah dari paradigma filosofis dan teologis tertentu berupa antroposentrisme absolut dan melahirkan gagasan ekspansif melalui penguasan atas alam bahkan atas manusia lain. Lahir pula "imperialisme global" (globalized imperialism) dan "manusia ekonomi" (homo oeconomicus) yang kata kuncinya adalah ketidakadilan. Di tengah masifnya kerusakan ekologi yang memiskinkan itu terdapat cerita yang berbeda tentang kemampuan masyarakat lokal mempertahankan kelestarian alam. Masyarakat Desa Delang bersehati "Mempertahankan Hutan Delang dari Ekspansi Sawit". Dari kacamata teologis, masyarakat Delang memahami bahwa alam (hutan) bukan sekadar benda yang bernilai ekonomis, melainkan "rumah" bagi Yang Ilahi. Yang Ilahi bersurga di bukit-bukit yang rimbun dengan pepohonan. Di sinilah teologi kontekstual mempertimbangkan penghayatan religiositas lokal untuk membantu kita menemukan kembali misi yang kontekstual, yaitu misi yang mempertimbangkan pandangan dunia primal (baca: agama kosmik), yang nilai utamanya bersahabat dengan alam.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.