THE MYTH OF FEMALE BEAUTY: STUDY OF REPRESENTATION TOWARD POST-NEW ORDER NOVELS WRITTEN BY MALES

Lelu Dina Apristia

Abstract


Males representing female beauty without experiencing to be real females in post-New Order era become the background of this study. This study is aimed: (1) to identify female beauty in post-New Order era represented by male writers, (2) to identify factors forming the representation. To achieve the aims, the study is done by applying Stuart Hall's representation theory which is not only about meaning produced through language and knowledge produced through discourse, but also about revealing patriarchal structure containing in discourse. After applying Stuart Hall's representation theory, it is found that female beauty in post-New Order era is not the same as the one in New Order era. Male writers represent that beautiful females in post-New Order are the ones whose body attracting other people and who struggle for freedom. The representation is formed by male writers in relation with males in post-New Order era and in discursive formation in post-New Order siding with males to keep masculine domination.

DOI: 10.24071/ijhs.2019.020204


Keywords


representation, female beauty, freedom, post-New Order, male writers, masculine domination

Full Text:

PDF

References


Ancol, K. (2004). Kembali ke revolusi kemerdekaan: Demokrasi Indonesia gegar otak. Yogyakarta: Lembaga Studi Budaya Politik Yogyakarta.

Anggraeni, D. (2014). Tragedi Mei 1998 dan lahirnya Komnas perempuan. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.

Anthony, M. (2008). The Masculine Century: A heretical history of our time. New York, Bloomington, Shanghai: iUniverse, Inc.

Atmowiloto, A. (2008). Blakanis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Atmowiloto, A. (2011). Mengarang novel itu gampang. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Barry, K. (1995). The prostitution of sexuality. New York and London: New York University Press.

Bourdieu, P. (1995). The rules of art: Genesis and structure of the literary field. Stanford: Stanford University Press.

Bourdieu, P. (2001). Masculine domination. Stanford: Stanford University Press.

Burns, L. (2007). Soul beautiful, naturally. Summerland: Summerland Publishing.

Candraningrum, D. (2013). Superwoman syndrome dan devaluasi usia: Perempuan dalam karier dan rumah tangga. Jurnal Perempuan untuk Pencerahan dan Kesetaraan: Karier dan Rumah Tangga, 18(1), 7-20.

Cao, D. (2011). Penterjemahan undang-undang. Malaysia: Institut Terjemahan Negara Malaysia dan Pusat Penerbitan Universiti (Upena).

Connell, R. W. & Messerschmidt, J. W. (2005). Hegemonic masculinity: Rethinking the concept. Gender & Society, 19(6), 829-859.

Corriveau, P. (2013). Regulating sex work: Between victimization and freedom to choose. In C. Parent, et al (Eds.), Sex work: Rethinking the job, respecting the workers. Canada: UBC press.

Creswell, J. W. (2013). Research design pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Davies, S. G. (2018). Pengaturan seksualitas di Indonesia. In L. R. Bennett, S. G. Davies, and I. M. Hidayana (Eds.), Seksualitas di Indonesia: Politik seksual, kesehatan, keberagaman, dan representasi. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Department of Communication and Information Technology Republic of Indonesia. (2005). Indonesia 2005: An official handbook. Jakarta: Foresight.

Ditmore, M. H. (2006). Encyclopedia of prostitution and sex work. Westport, Conn: Greenwood Publishing Press.

Engel, B. A. (1996). Between the fields and the city: Women, work and family in Russia, 1861-191. Cambridge: Cambridge University Press.

Faruk. (2012). Metode penelitian sastra: Sebuah penjelajahan awal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Fokkema, D. W. & Kunne-Ibsch, E. (1977). Theories of literature in the twentieth century. London: C. Hurst & Company.

Gandhi, M. (2011). Kaum perempuan dan ketidakadilan sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hall, S. (1990). Cultural identity and diaspora. In J. Rutherford (Ed.), Identity community, culture, difference. London: Lawrence and Wishart.

Hall, S. (1997). The work of representation. In S. Hall (Ed.), Representation: Cultural representations and signifying practices. London: SAGE Publications Ltd.

Hall, S. (2011). Cultural studies dan centre: Beberapa problematik dan permasalahan. In S. Hall, et al (Eds.), Budaya, media, bahasa. Yogyakarta: Jalasutra.

Heryanto, A. (2012). Kewarganegaraan dan etnis Cina dalam dua film Indonesia pasca-1998. In A. Heryanto (Ed.), Budaya populer di Indonesia: Mencairnya identitas pasca-orde baru. Yogyakarta: Jalasutra.

Hidayat, L. M. (2007). Reformasi administrasi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Ibrahim, I. S. (1998). Komodifikasi “aura” “cewek kece” dan “cowok macho” dalam industri kebudayaan pop hegemoni di balik “euphoria” pemujaan tubuh”. In I. S. Ibrahim and H. Suranto (Eds.), Wanita dan media: Konstruksi ideologi gender dalam ruang publik orde baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Ide, P. (2013). Agar tulang sehat. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Ivancevich, J. M., et al. (2006). Perilaku dan manajemen organisasi. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Jensen, R. (2013). Just a John? Pornography and men’s choices. In S. Tarrant (Ed.), Men speak out: Views on gender, sex and power. New York and London: Routledge.

Jones, T. (2015). Kebudayaan dan kekuasaan di Indonesia kebijakan budaya selama abad ke-20 hingga era reformasi. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Kauma, F. (1999). Sensasi remaja di masa puber. Jakarta: Kalam Mulia.

Kriyantono, R. (2013). Manajemen periklanan: Teori dan praktek. Malang: UB Press.

Kwan, M. & Deddy, M. (2011). Cantik dengan totok aura wajah dan make-up serasi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Madani, Y. (2003). Pendidikan seks untuk anak dalam Islam. Jakarta: Pustaka Zahra.

Magdalena, M. (2014). 10 wanita simpanan paling menggegerkan dunia. Jakarta: Kompas Gramedia.

Matthews, R. (2008). Prostitution, politics, and policy. London and New York: Routledge.

Melliana, S. A. (2006). Menjelajah tubuh perempuan dan mitos kecantikan. Yogyakarta: LKiS.

Moleong, L. J. (2011). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Munsyi, A. D. (2012). Jadi penulis? Siapa takut!: Arahan mudah menulis berita, puisi, prosa, dan drama dalam bahasa Indonesia yang pas. Bandung: Kaifa.

Novita, W. (2010). Meraih inner beauty dengan doa dan zikir. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Nurgiyantoro, B. (2015). Teori pengkajian fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Piliang, Y. A. (1998). Masih adakah ‘aura’ wanita di balik ‘euphoria’ media. In I. S. Ibrahim and H. Suranto (Eds.), Wanita dan media: Konstruksi ideologi gender dalam ruang publik orde baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Ratna, N. K. (2010). Sastra dan cultural studies representasi fiksi dan fakta. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sadewo. (2014). Cantik elegan dengan kebaya XL. Jakarta: Kompas Gramedia.

Sigiro, A. N. (2012). Perempuan dan kesejahteraan keluarga di Indonesia: Kritik atas model keluarga “lelaki sebagai pencari nafkah utama”. Jurnal Perempuan untuk Pencerahan dan Kesetaraan: Perkawinan dan Keluarga, 7-17.

Sobary, M. (1998). Perempuan dalam budaya dominasi simbolik dan aktual kaum lelaki. In I. S. Ibrahim and H. Suranto (Eds.), Wanita dan media: Konstruksi ideologi gender dalam ruang publik orde baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sudaryanto. (2015). Metode dan aneka teknik analisis bahasa: Pengantar penelitian wahana kebudayaan secara linguistis. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press.

Sudirman, A. (2014). Sejarah lengkap Indonesia. Yogyakarta: DIVA Press.

Suherman, M. (1998). Penuh bedak tanpa detak, belepotan gincu tanpa memacu, “jangan beli” wajah wanita dalam media cetak. In I. S. Ibrahim and H. Suranto (Eds.), Wanita dan media: Konstruksi ideologi gender dalam ruang publik orde baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sumardjo, J. (1999). Konteks sosial novel Indonesia 1920-1977. Bandung: Penerbit Alumni.

Suryakusuma, J. (2012). Agama, seks dan kekuasaan kumpulan tulisan 1979–2012. Jakarta: Komunitas Bambu.

Sylado, R. (1999). Ca-Bau-Kan (Hanya sebuah dosa). Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).

Tim Penyusun Kamus. (2008). Kamus bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.

Trisnadi, et al. (2004). Dolly hitam putih prostitusi. Jakarta: Gagas Media.

Trotter, H. (2011). The virtue of dockside dalliance: Why maritime sugar girls are safer than urban streetwalkers in South Africa’s prostitution industry. In S. Dewey and P. Kelly (Eds.), Policing pleasure. New York and London: New York University Press.

Udasmoro, W. (2017). Women and the reproduction of literary narratives in the construction of the nation. Litera Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 16(2), 180-188.

Walby, S. (2014). Teorisasi patriarki. Yogyakarta: Jalasutra.

Winarnita, M. S. (2018). Nenek-nenek Indonesia dan seksualitas transnasional. In L. R. Bennett, S. G. Davies, and I. M. Hidayana (Eds.), Seksualitas di Indonesia: Politik seksual, kesehatan, keragaman dan representasi. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Zalduondo, B. O. (1999). Prostitution viewed cross-culturally: Toward recontextualizing sex work in AIDS intervention research. In R. Parker and P. Aggleton (Eds.), Culture, society and sexuality. London and New York: Routledge Taylor and Francis Group.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Indexed and abstracted in:

     


Creative Commons License

This work is licensed under CC BY-SA.

Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

 

p-ISSN: 2597-470X (since 31 August 2017); e-ISSN: 2597-4718 (since 31 August 2017)

IJHS Journal Vol 1 No 2 publication date: 8 March 2018

Flag Counter

International Journal of Humanity Studies (IJHS) is a scientific journal in English published twice a year, namely in September and March, by Sanata Dharma University, Yogyakarta, Indonesia.